Pendidikan, Terorisme, dan Radikalisme

Opini

Ideologi radikal wajar saja tumbuh subur di Indonesia. Banyak faktor yang pendukungnya. Salah satunya, pendidikan yang selama ini kita kunyah.

Kemarin (13/05/2018), ketika aku mengabarkan ada bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya kepada salah satu orang terdekat, dia hanya berkomentar, “Biarlah di gereja, asal jangan di mesjid”

Aku tiba-tiba marah dan sangat kaget dengan pernyataan tersebut. Aneh memang, ketika kita membeda-bedakan nyawa karena agama yang dianut seseorang.

Sejenak aku termenung, ya, di massa aku mendapatkan pendidikan agama. Aku masih ingat salah satu guru mengajiku ketika mengajar kadang menjelek-jelekkan agama orang lain. Lalu membuat kami berpikiran cuma kamilah yang bisa masuk surga. Sampai aku mulai bertanya, bagaimana nasib umat agama lain. Bagaimana jika dia baik tapi bukan dari agama kami?

Tentu saja pertanyaan itu tak aku tanyakan. Takut. Sudah lumrah di Indonesia, kalau kamu bertanya yang aneh-aneh tentang agamamu, maka kamu akan dicemooh, dianggap tidak beriman atau kafir.

Sampai kejadian yang sama berulang, waktu aku duduk di bangku S2. Dosenku dengan terang-terangan bilang, hanya umat agama ini yang masuk surga, yang lain tidak.

Sebenarnya pernyataan ini tidak masalah, jika dikatakan dalam forum khusus, tapi masalahnya di dalam kelas, terdiri dari beberapa agama. Sampai salah satu temanku nyeletuk, “Surga agama kami beda dengan surga agama bapak!”

Aku melirik, aku mengerti sekali perasaannya. Seseorang yang dihakimi karena perbedaan agama. Lalu aku mencoba menenangkan, “Sudah, sabar, kami paham”

Kejadian menarik juga pernah aku alami dengan murid lesku. Ketika dia menceritakan tentang temannya yang berbeda agama, dia berujar, “Dia kan agamanya itu, jadi wajar aja jahat”

Lalu aku bertanya, “Apakah yang agamanya sama seperti kita pasti baik?”

“Enggak sih, tapi kebanyakan agama itu enggak baik”

“Dapat data dari mana? Ada surveinya? Di penjara, khususnya Indonesia, yang paling banyak jadi napi agamanya apa? Kalau di negara lain beda enggak?”

“Hehe….”

“Nak, tidak ada hubungan antara kebaikan dengan agama. Semua agama mengajarkan kebaikan”

Waktu kuliah, aku juga pernah berpikiran radikal; bagaimana tidak, pendidik, video yang aku tonton, teman-teman, dan doktrin-doktrin yang aku dengar hanya dari satu sisi. Saking jailnya, aku sering juga masuk ke website-website agama lain hanya untuk mengajak mereka berdebat. Bebal benar kan aku?

Untungnya aku sering main ke perpustakaan. Saat aku sudah hampir membaca semua buku yang aku suka, aku mulai membaca buku tentang sejarah agama, agama lain, atau tentang perbandingan agama. Menarik pikirku. Sudut pandangku berubah terhadap agama lain. Apalagi setelah lulus kuliah, aku bekerja di tempat yang cukup banyak berisi orang dari agama berbeda. Tercerahkan!

Aku semakin memahami, tidak ada yang salah dengan agama, yang salah adalah kita; perasaan paling unggul, paling benar, dan paling layak masuk surga. Pendidikanlah yang memegang peranan penting dalam menginformasikan hal ini. Bukankah Hittler juga muncul karena dia merasa paling unggul? Sampai-sampai adikku memujinya, “Hebat ya Hittler, membunuh banyak Yahudi yang jahat!”

Sambil menghela napas aku jawab, “Tidak ada yang hebat dalam pembunuhan, baik yang dibunuh atau membunuh, apapun agamanya, rasnya, negaranya, pembunuhan itu adalah kejahatan”

Seyogyanya, perlu ada pengawasan, kontrol ketat, dan standarisasi pendidikan di sekolah-sekolah kita. Jangan sampai guru mengajarkan intoleransi dan kebencian kepada sesama manusia, meskipun kita berbeda.

Ditulis Oleh: Rofa Yulia Azhar
Please follow and like us:
0

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *