Opini

Hasil UN SMP dan SMA 2018 telah diumumkan hasilnya. Meskipun tahun ini terjadi penurunan nilai rata-rata siswa dibandingkan tahun kemarin karena diterapkannya soal jenis HOTS (High Order Thinking Skills), tapi setidaknya hasil UN masih bisa digunakan sebagai bentuk refleksi kualitas pendidikan di Indonesia.

Tidak adil memang hanya menjadikan UN sebagai tolak ukur keberhasilan pendidikan, apalagi UN masih diwarnai dengan berbagai masalah, kecurangan, kebocoran soal, pengawas yang “baik”, dan masalah-masalah lainnya. Tapi untuk saat ini, hanya UN satu-satunya “standar acuan valid” yang bisa kita gunakan untuk menilai kualitas pendidikan di Indonesia. Mau bagaimana lagi, tidak ada opsi lain yang lebih baik.

Hasilnya sama seperti tiga tahun ke belakang. Untuk hasil UN tertinggi di SMA dan SMP di DKI Jakarta sebagian besar diduduki oleh sekolah swasta. Begini urutan 5 sekolah SMA peraih UN tertinggi 2018 di DKI Jakarta untuk jurusan IPA:

  1. SMAN Unggulan MH Thamrin (86,90)
  2. SMA Kristen 1 BPK Penabur (85,45)
  3. SMA Santa Ursula (83,56)
  4. SMA Kanisius (83,11)
  5. SMA Kristen 3 BPK Penabur (81,82)

Sedangkan untuk SMP di DKI Jakarta, nilai UN tertinggi diraih oleh:

  1. SMP Djuwita (91,88)
  2. SMP Kristen 8 BPK Penabur (91,27)
  3. SMP Negeri 41 Jakarta (91,22)
  4. SMP Kanisius (90,84)
  5. SMP Negeri 115 Jakarta (90,70)

Bagi kalian mungkin biasa saja, bagi saya data di atas menunjukkan sebuah permasalahan. Pertama, menunjukkan kualitas sekolah negeri yang tidak lagi sebaik dahulu, dan kedua, dimana posisi sekolah-sekolah islam, baik itu sekolah swasta atau sekolah negeri di bawah kementerian agama?

“Ah itu kan datanya cuma di Jakarta!”

Benar, yang saya tunjukkan hanya data di Jakarta sebagai sampel. Ada alasannya, karena kalau saya tunjukkan data di semua provinsi tulisan ini akan kepanjangan. Tapi kalau kita cermati, tren ini juga berlaku di kota-kota besar lainnya. Kesimpulannya dua, sekolah swasta kualitasnya semakin meningkat, dan kedua, sekolah islam semakin sulit bersaing di peringkat 10 besar. Tetapi ada pengecualian, untuk beberapa kabupaten, terutama di wilayah pinggiran, nilai rata-rata UN terbaik masih dipegang oleh sekolah-sekolah negeri, tapi tetap, bukan sekolah-sekolah islam.

Data-data ini menjadi “tamparan keras” buat kita para pendidik, terutama guru-guru yang mengajar di sekolah negeri dan sekolah islam. Banyak yang harus diperbaiki dalam pendidikan kita, misalnya pada proses perekrutan guru, terutama guru honorer di sekolah-sekolah harusnya diperketat. Jangan sampai seperti selama ini terjadi, dimana saya salah satu korbannya. Untuk menjadi guru honorer gampang sekali. Syaratnya cuma tiga: ada lowongan kerja, memenuhi syarat administratif, dan mau dibayar rendah. Kualitas guru yang rendah bukan karena Indonesia kekurangan SDM, tapi malasnya sekolah untuk mencari guru yang berkualitas, ikhlas mendidik, dan tentu saja mau dibayar murah.

“Sekolah islam wajar tidak masuk peringkat UN tertinggi, soalnya fokusnya itu pada ahlak, bukan nilai!”

Kalau ini sih jelas “ngeles”, faktanya negara paling aman selama lima tahun berturut-turut di dunia dipegang oleh Islandia (data GPI). Padahal di sana, tidak ada sekolah agama dan orang-orangnya tidak religius, atheis juga tumbuh subur. Lalu jika sekolah islam berfokus pada akhlak, mengapa peringkat korupsi, dan kejahatan di Indonesia masih tinggi? Padahal Indonesia dikenal sebagai negara yang religius. Belum berhasil, gagal, atau ada yang salah?

Ada yang salah dan ada masalah besar dalam pengelolaan pendidikan Indonesia. Perlu kesadaran dan kemauan untuk merubah itu semua. Lalu kenapa sebagian besar dari kita tidak mau berubah? Ya, karena pada dasarnya, perubahan itu selalu menyakitkan.

Ditulis Oleh: Rofa Yulia Azhar
Please follow and like us:
0

Opini

Ideologi radikal wajar saja tumbuh subur di Indonesia. Banyak faktor yang pendukungnya. Salah satunya, pendidikan yang selama ini kita kunyah.

Kemarin (13/05/2018), ketika aku mengabarkan ada bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya kepada salah satu orang terdekat, dia hanya berkomentar, “Biarlah di gereja, asal jangan di mesjid”

Aku tiba-tiba marah dan sangat kaget dengan pernyataan tersebut. Aneh memang, ketika kita membeda-bedakan nyawa karena agama yang dianut seseorang.

Sejenak aku termenung, ya, di massa aku mendapatkan pendidikan agama. Aku masih ingat salah satu guru mengajiku ketika mengajar kadang menjelek-jelekkan agama orang lain. Lalu membuat kami berpikiran cuma kamilah yang bisa masuk surga. Sampai aku mulai bertanya, bagaimana nasib umat agama lain. Bagaimana jika dia baik tapi bukan dari agama kami?

Tentu saja pertanyaan itu tak aku tanyakan. Takut. Sudah lumrah di Indonesia, kalau kamu bertanya yang aneh-aneh tentang agamamu, maka kamu akan dicemooh, dianggap tidak beriman atau kafir.

Sampai kejadian yang sama berulang, waktu aku duduk di bangku S2. Dosenku dengan terang-terangan bilang, hanya umat agama ini yang masuk surga, yang lain tidak.

Sebenarnya pernyataan ini tidak masalah, jika dikatakan dalam forum khusus, tapi masalahnya di dalam kelas, terdiri dari beberapa agama. Sampai salah satu temanku nyeletuk, “Surga agama kami beda dengan surga agama bapak!”

Aku melirik, aku mengerti sekali perasaannya. Seseorang yang dihakimi karena perbedaan agama. Lalu aku mencoba menenangkan, “Sudah, sabar, kami paham”

Kejadian menarik juga pernah aku alami dengan murid lesku. Ketika dia menceritakan tentang temannya yang berbeda agama, dia berujar, “Dia kan agamanya itu, jadi wajar aja jahat”

Lalu aku bertanya, “Apakah yang agamanya sama seperti kita pasti baik?”

“Enggak sih, tapi kebanyakan agama itu enggak baik”

“Dapat data dari mana? Ada surveinya? Di penjara, khususnya Indonesia, yang paling banyak jadi napi agamanya apa? Kalau di negara lain beda enggak?”

“Hehe….”

“Nak, tidak ada hubungan antara kebaikan dengan agama. Semua agama mengajarkan kebaikan”

Waktu kuliah, aku juga pernah berpikiran radikal; bagaimana tidak, pendidik, video yang aku tonton, teman-teman, dan doktrin-doktrin yang aku dengar hanya dari satu sisi. Saking jailnya, aku sering juga masuk ke website-website agama lain hanya untuk mengajak mereka berdebat. Bebal benar kan aku?

Untungnya aku sering main ke perpustakaan. Saat aku sudah hampir membaca semua buku yang aku suka, aku mulai membaca buku tentang sejarah agama, agama lain, atau tentang perbandingan agama. Menarik pikirku. Sudut pandangku berubah terhadap agama lain. Apalagi setelah lulus kuliah, aku bekerja di tempat yang cukup banyak berisi orang dari agama berbeda. Tercerahkan!

Aku semakin memahami, tidak ada yang salah dengan agama, yang salah adalah kita; perasaan paling unggul, paling benar, dan paling layak masuk surga. Pendidikanlah yang memegang peranan penting dalam menginformasikan hal ini. Bukankah Hittler juga muncul karena dia merasa paling unggul? Sampai-sampai adikku memujinya, “Hebat ya Hittler, membunuh banyak Yahudi yang jahat!”

Sambil menghela napas aku jawab, “Tidak ada yang hebat dalam pembunuhan, baik yang dibunuh atau membunuh, apapun agamanya, rasnya, negaranya, pembunuhan itu adalah kejahatan”

Seyogyanya, perlu ada pengawasan, kontrol ketat, dan standarisasi pendidikan di sekolah-sekolah kita. Jangan sampai guru mengajarkan intoleransi dan kebencian kepada sesama manusia, meskipun kita berbeda.

Ditulis Oleh: Rofa Yulia Azhar
Please follow and like us:
0